Time is My Heart

Kamis, 10 April 2014

MENCONTOH KONSEP FUNGSI MONOTON DALAM IMAN



MENCONTOH KONSEP FUNGSI MONOTON DALAM IMAN

ABSTRAK
Fungsi monoton merupakan fungsi yang selalu monoton pada interval tertentu, monoton naik dan turun. Sebagai umat yang beragama terutama umat islam, iman merupakan landasan utama dalam menapaki kehidupan di dunia dan akhirat. Iman dapat berfluktasi karena berhubungan dengan hati. Untuk dapat mengantisipasi fluktasi iman maka diperlukan interval atau sarana seperti yang dimiliki fungsi monoton. Oleh karena itu jika kita bisa memonotonkan iman seperti fungsi monoton maka kita akan selalu merasa hidup tentram tanpa kegalauan.
Kata Kunci : Fungsi monoton, iman dan fluktasi iman

PENDAHULUAN
Monoton, statis, dan konsisten merupakan kata-kata yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, begitu pula dalam matematika kata-kata tersebut tidaklah asing. Dalam matematika khususnya materi kalkulus deferensial atau turunan kita akan menemukan sebuah fungsi yang unik dan menarik untuk kita bahas dalam artikel ini yaitu,  fungsi monoton.
Fungsi monoton merupakan pendefresialan dari suatu f(x) pada selang tertentu sebagaimana  dapat dikatakan bahwa:
·         Fungsi f(x) naik bila f’(x) > 0
·         Fungsi f(x) turun bila f’(x) < 0
Dalam keadaan selang seperti itulah fungsi tersebut selalu monoton tidak pernah berubah.(Martono,1999:65)
Secara tidak langsung, tanpa kita sadari sebenarnya fungsi monoton telah menyindir kita sebagai manusia yang berakal, karena fungsi tersebut dapat selalu monoton pada interval tertentu walaupun nilainya selalu berubah-ubah tetapi jika ia berada dalam interval yang bernilai kurang dari nol maka ia akan kembali monoton yang disebut dengan monoton turun , begitupula sebaliknya jika lebih dari  nol maka ia disebut monoton naik.
Sifat fungsi kemonotonan tersebutlah yang akan penulis bahas dalam konteks iman. Sebagai umat yang beragama terutama umat islam, iman merupakan landasan utama dalam menapaki kehidupan di dunia dan akhirat. Kita ketahui bahwa iman selalu berfluktasi karena iman erat sekali hubungannya dengan hati. Untuk dapat mengantisipasi fluktasi iman maka diperlukan interval atau sarana seperti yang dimiliki fungsi monoton.
Iman tidaklah cukup bila hanya beriman saja kemudian meninggalkannya, dan juga tidak cukup hanya “beriman kepada Allah”. Iman tentunya harus berlaku juga pada obyek-obyek keimanan, dan hanya orang yang beriman pada seluruh obyek keimanan, keimananya dapat dipandang sebagai keimanan islam.
Iman adalah landasan utama bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupan di muka bumi. Tanpa iman, hidup seorang muslim akan dipenuhi dengan kekhawatiran dan keragu-raguan. Kita semua mengetahui, bahwa iman keyakinan kita terhadap Allah SWT sangat mudah berubah, kadang naik, kadang turun.  Penyebabnya antara lain, karena suasana hati dan pikiran kita yang berubah-ubah serta bisa juga karena aktifitas duniawi kita yang menyebabkan kita kelelahan, hingga tidak jarang mengakibatkan kita kurang bisa merasakan kekhusu’an dalam ibadah dan kurang bisa merasakan getaran dalam amal ibadah yang kita lakukan. Fluktuasi iman ini sudah disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, ”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.”  (HR. Ibn Hibban)
Dilihat dari uraian diatas, permasalahan fluktasi iman perlu diperbaiki dengan cara mencontoh konsep fungsi monoton, walaupun dari berbagai literatur yang menulis tentang iman tidak ditemukan literatur yang mengatakan bahwa iman akan selalu monoton, tetapi iman dapat diusahakan monoton. Untuk inilah artikel ini membahas beberapa hal mengenai pengertian fungsi monoton, paradigma iman, hubungan antara fungsi monoton dengan iman, .
BAB II
Pengertian fungsi monoton
Suatu fungsi  dinamakan fungsi monoton naik dalam suatu interval, jika  , dimana  berada dalam interval tersebut, maka berlaku .
Suatu fungsi  dinamakan fungsi monoton turun dalam suatu interval, jika  , dimana  berada dalam interval tersebut, maka berlaku  Jika  monoton naik atau monoton turun dalam suatu interval, baik terbuka maupun tertutup, maka dikatakan fungsi tersebut sebagai fungsi monoton.

Gambar 2.8: (a). Grafik fungsi monoton naik
                       (b). Grafik fungsi monoton turun (Martono,1999:65)
Menurut (Martono,1999:65),
sebuah fungsi yang memiliki nilai semakin besar maka secara mutlak nilai fungsi tersebut akan semakin naik sehingga fungsi tersebut dikatan monoton naik, sedangkan fungsi yang semakin turun maka fungsi tersebut disebut dengan fungsi monoton turun.

Dalam menentukan selang fungsi monoton naik atau turun digunakan pengertian berikut:
Gradien dari suatu garis didefinisikan sebagai tangen sudut (α) yang dibentuk oleh garis tersebut dengan sumbu x positif, m= tan α. Bila sudut lancip (α < 0,5 π) maka > 0 dan maka >0 untuk α > 0,5 π. Karena gradien garis singgung suatu kurva y = f(x) dititik (x,y). Diberikan dengan m= f(x) dan selang fungsi naik atau turun berturut-turut ditentukan dari nilai gradiennya, maka selang dimana fungsi monoton diberikan sebagai berikut:
·         Fungsi f(x) naik bila f’(x) > 0.
·         Fungsi f(x) naik bila f’(x) < 0.
Contoh:
Tentukan selang fungsi naik dan fungsi turun dari fungsi f(x) = x4+2x3+x2-5
Jawab:
Turunan pertama, f ’(x)=4x3+6x2+2x.
Untuk f ’(x)=4x3+6x2+2x, maka fungsi naik pada -1 < x < ½ -atau x >0 dan fungsi turun x < -1 atau -  ½     <  x < 0 (Danang: 04-04-2010) 

Paradigma Iman
Iman amatlah erat sekali hubungannya dengan akal dan wahyu. Iman yang didasarkan pada wahyu disebut tasdiq, yaitu menerima sebagai apa yang didengar. Dan iman yang didasarkan pada akal disebut ma’rifah, mengerti benar dengan apa yang diyakini. Jadi tasdiq berdasarkan pada pemberitaan, sedangkan ma’rifah berdasarkan pada pengetahuan mendalam.
Menurut (Abduh,1366 H:111) “Iman adalah pengetahuan, kepercayaan atau keyakinan”. Iman dapat dikatakan sempurna jika berdasarkan pada akal dan keyakinan bukan pada pendapat karena akallah yang menjadi sumber keyakinan pada Allah, ilmu, dan para Rasulnya.
Lain halnya menurut (Murata dan William C,1997:2),
Konsep iman melalui apa yang disabdakan Nabi Muhammad SAW bahwa iman adalah sebuah pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan, dan aktivitas anggota badan. Jadi iman melibatkan pengakuan, pengucapan, dan perbuatan. Oleh karenanya setiap orang yang beriman, pertama kali harus mengakui dalam hatinya bahwasannya sesuatu adalah benar.

Secara etimologis, iman berarti membenarkan dengan hati atau percaya. Adapun secara istilah syar’iy, (Al-Imam Ibnu Taymiyah,1414 H:151-152) dalam kitabnya Al-Iman, menukil beberapa definisi “iman” yang dipahami oleh generasi Salaf. Diantaranya sebagai berikut:
1.                    ونية الإيمان قول وعمل”(iman ialah perkataan, perbuatan dan niat). Penyebutan kata niat  secara eksplisit bermaksud untuk menjelaskan bahwa tidak semua perbuatan selalu dipahami sebagai “niat”.
2.                    وعمل ونية واتباع السنة الإيمان قول” (iman ialah perkataan, perbuatan, niat dan mengikuti sunnah).
3.                     قول باللسان واعتقاد بالقلب وعمل بالجوارح” (iman ialah perkataan dengan lisan, keyakinan dengan hati dan perbuatan dengan organ tubuh).
Karena iman tersusun atas tiga komponen dalam satu kesatuan maka ‘amal (perbuatan hati dan organ tubuh) menjadi bagian tak terpisahkan dari pemaknaan iman itu sendiri. Oleh karena itulah, iman akan bertambah dan berkurang seiring dengan bertambah dan berkurangnya amal; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, ”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.”  (HR. Ibn Hibban)
Konsep fluktuasi atau naik-turunnya iman dapat kita cermati pada surat Al-Anfal (2-4):
 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabi’la dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Itulahorang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.” (Al-Anfal :2-4)         
Demikian pula hadis-hadis Nabi SAW di bawah ini :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
         Dari sahabat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda :“Iman itu terdiri dari tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih; yang paling utama ialah perkataan ‘tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT’ dan yang terendah ialah menyingkirkan rintangan atau kotoran dari jalan, sedang rasa malu itu juga merupakan salah satu cabang iman.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
         Dari sahabat Abu Sa’id al-Khudry RA, Rasulullah SAW bersabda:”Barang siapa di antara kalian melihat kemunkaran hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu juga maka dengan hatinya, dan yang demikian itu ialah selemah-lemahnya iman.
Ada 5 kiat-kiat dalam menjaga keistiqomahan atau kemonotonan iman antara lain:
1.      Memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar.
Allah swt berfirman:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا  يَشَاء
“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27) 
2.      Mengkaji Al Qur’an dengan menghayati dan merenungkannya.
Rasulullah saw sebagaimana terdapat dalam ayat :
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلا
“Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar)” (QS. Al Furqon: 32)
3.      Iltizam (konsekuen) dalam menjalankan syari’at Allah swt.
Rasulullah saw bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling disenangi Allah swt adalah kontinu walauppun sedikit”
4.      Membaca kisah-kisah orang sholeh sehingga bisa dijadikan uswah (teladan) dalam istiqomah.
Allah swt berfirman:
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Hud: 11) 
5.      Memperbanyak do’a pada Allah swt agar diberi keistiqomahan.
Allah swt berfirman:
وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ (146) وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ(147) فَآَتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (148)
  “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan: ‘Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir‘. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”(QS. Ali ‘Imran: 146-148).( http://bundadontworry.wordpress.com/2012/07/28)
Hubungan Fungsi Monoton dengan Iman
Kadar dimensi keimanan seseorang pasti pernah mengalami fluktasi, yaitu keadaan naik dan turun. Secara konsepsional iman selalu diartikan dinamis, maka dari itu untuk dapat memonotonkan iman atau mengistiqomahkannya, diperlukan konsep atau cara seperti yang dilakukan oleh fungsi monoton.
Suatu f(x) pada interval tertentu sebagaimana  dapat dikatakan bahwa:
·         Fungsi f(x) naik bila f’(x) > 0
·         Fungsi f(x) turun bila f’(x) < 0
Dalam keadaan interval seperti itulah fungsi tersebut selalu monoton tidak pernah berubah. (Martono,1999:65)
Dari berbagai literatur yang menulis tentang keimanan, penulis tidak menemukan literatur yang mengungkapkan bahwa iman dapat selalu monoton seperti fungsi monoton. Maka dari itu penulis berpendapat bahwa fungsi monoton dapat berhubungan dengan iman yakni saat iman menurun maka ia harus segera mencari solusi atau interval (daerah) tertentu agar imannya tetap berada dalam kemonotonan atu keistiqomahan, begitupula sebaliknya iman harus selalu diusahakan untuk monoton naik agar kita dapat menjadi seorang muslim sejati.
Setelah kita dapat menemukan interval yang dapat memonotonkan iman yang diperlukan selanjutnya adalah keteguhan iman, sehingga timbul ketekunan dan kesabaran dalam menghadapi segala macam halangan, rintangan dan godaan yang menerpa setiap saat, sebagai ujian bagi orang beriman.

KESIMPULAN
1.      Fungsi monoton merupakan fungsi yang selalu monoton pada interval tertentu, ia tidak pernah berubah ke kiri atau ke kanan tetapi ia selalu monoton naik dan turun. Fungsi monoton dapat tetap monoton dalam selang dimana sebagai berikut:
·         Fungsi f(x) naik bila f’(x) > 0
·         Fungsi f(x) naik bila f’(x) < 0
2.      iman tersusun atas tiga komponen dalam satu kesatuan maka ‘amal (perbuatan hati dan organ tubuh) menjadi bagian tak terpisahkan dari pemaknaan iman itu sendiri. Oleh karena itulah, iman akan bertambah dan berkurang seiring dengan bertambah dan berkurangnya amal; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, ”Iman itu kadang naik kadang turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan la ilaha illallah.”  (HR. Ibn Hibban)
3.      Fungsi monoton dapat berhubungan dengan iman yakni saat iman menurun maka ia harus segera mencari solusi atau interval (daerah) tertentu agar imannya tetap berada dalam kemonotonan atu keistiqomahan, begitupula sebaliknya iman harus selalu diusahakan untuk monoton naik agar kita dapat menjadi seorang muslim sejati. Setelah kita dapat menemukan interval yang dapat memonotonkan iman yang diperlukan selanjutnya adalah keteguhan iman, sehingga timbul ketekunan dan kesabaran dalam menghadapi segala macam halangan, rintangan dan godaan yang menerpa setiap saat, sebagai ujian bagi orang beriman.

DAFTAR PUSTAKA
Abduh, Mohammad, 1366 H. Risalah Tauhid. Cairo: Dar Maun
Ayres, Frank, Elliot Mendeson.2000. Schaum’s Easy outlines Calculus. Jakarta: Erlangga
Ibnu Tayyimah, Syaikh al-islam. 1414 H.Kitab al-imam Cet IV. Beirut: Dar Al-Kutub al-Ilmiyah
Sachico Murata & William C. Chittick. 1997. Trilogi Islam. Jakarta: PT. Rajagarafindo Persada
Suhana, Lily. “Tips Agar Istiqomah”.
Mursita, Danang.”Matematika Dasar”.
Martono, Koko. 1999. Kalkulus  Jakarta: Erlangga